Minggu, 03 Februari 2013

LAPORAN PENDAHULUAN OPEN FRAKTURE CRURIS


BAB I
LAPORAN PENDAHULUAN
OPEN FRAKTURE CRURIS
Defenisi
Fraktur terbuka merupakan suatu fraktur dimana terjadi hubungan dengan lingkungan luar melalui kulit sehingga terjadi kontaminasi bakteri sehingga timbul komplikasi berupa infeksi. luka pada kulit dapat berupa tusukan tulang yang tajam keluar menembus kulit atau dari luar oleh karena tertembus misalnya oleh peluru atau trauma langsung (chairuddin rasjad,2008).
Patah tulang terbuka adalah patah tulang dimana fragmen tulang yang bersangkutan sedang atau pernah berhubungan dunia luar (PDT ortopedi,2008)
Fraktur cruris adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya, terjadi pada tulang tibia dan fibula. Fraktur terjadi jika tulang mendapatkan stress yang lebih besar dari yang dapat diabsorbsinya (Brunner & Suddart, 2001).
  Jenis fraktur
a)      Berdasarkan sifat fraktur:
1.    Fraktur tertutup:  fraktur tapi tidak menyebabkan robeknya kulit
2.    Fraktur terbuka: fraktur dengan luka pada kulit atau membran mukosa sampai ke patahan tulang.
b)      Berdasarkan kompli/tidak komplitnya fraktur:
1.      Fraktur komplit : patah pada seluruh garis tengah tulang dan biasanya mengalami pergeseran.
2.      Fraktur tidak komplit: patah hanya pada sebagian dari garis tengah tulang
c)      Berdasarkan bentuk garis patah & hubungan dengan mekanisme trauma:
1.      Greenstick: fraktur dimana salah satu sisi tulang patah,sedang sisi lainnya membengkok.
2.      Transversal: fraktur sepanjang garis tengah tulang
3.      Oblik: fraktur membentuk sudut dengan garis tengah tulang (lebih tidak stabil dibanding transversal)
4.      Spiral: arah garis patah spiral dan akibat dari trauma rotasi
5.      Kominutif: fraktur dengan tulang pecah menjadi beberapa frakmen
6.      Depresi: fraktur dengan fragmen patahan terdorong ke dalam
7.      Kompresi: Fraktur dimana tulang mengalami kompresi (terjadi pada tulang belakang)
8.      Patologik: fraktur yang terjadi pada daerah tulang berpenyakit (kista tulang, penyakit paget, metastasis tulang, tumor).
9.      Tertariknya fragmen tulang oleh ligamen atau tendo pada daerah perlekatannnya.

ANATOMI FISIOLOGI
  1. Patela ( Tempurung lutut )
Sebelah atas dan bawah dari kolumna femoralis terdapat taju yang disebut trokanter mayor dan trokanter minor. Dibagian ujung berbentuk persendian lutut, terdapat dua buah tonjolan yang disebut kondilus medialis dan kondilus lateralis. Diantara kedua kondilus ini terdapat lekukan tempat letaknya tulang tempurung lutut ( patela ) yang disebut fosa kondilus
  1. Tibia ( TI. Kering )
Bentuk lebih kecil, pada bagian pangkal melekat pada os fibula, pada bagian ujung membentuk persendian dengan tulang pangkal kaki dan terdapat taju yang disebut os maleolus medialis, bagian dari tibia meliputi :


1)      Prosesus Interkondiloid
2)      Fosa interkondoloid
3)      Maleolus medialis
4)      Tuberositas tibia fibula ( TI betis )
5)      Maleolus lateralis
6)      Prosesus stiloid
  1. Tarsalia ( pergelangan kaki ) terdiri dari :
1)      Talus
2)      Kalkaneus
3)      Navikular
4)      Kunaiformi


Lateralis
Inter medialis
1.      Vasodilatasi
2.      Pengeluaran plasma
3.      Infiltrasi sel darah putih

  Etiologi
Menurut Oswari E (1993):
a.       Kekerasan langsung: Terkena pada bagian langsung trauma
b.      Kekerasan tidak langsung: Terkena bukan pada bagian yang terkena trauma
c.       Kekerasan akibat tarikan otot
Menurut Barbara C Long (1996):
a.       Benturan & cedera (jatuh, kecelakaan)
b.      Fraktur patofisiologi (oleh karena patogen, kelainan)
c.       Patah karena letih
Patofisiologi

Fraktur
Periosteum, pembuluh darah
dan jaringan sekitarnya rusak
§  Perdarahan
§  Kerusakan jaringan di ujung tulang
Terbentuk hematom di canal medula
Jaringan mengalami nekrosis
Nekrosis merangsang terjadinya peradangan, ditandai :
Tahap penyembuhan tulang
1.      Haematom :
o   Dalam 24 jam mulai pembekuan darah dan haematom
o   Setelah 24 jam suplay darah ke ujung fraktur meningkat
o   Haematom ini mengelilingi fraktur dan tidak diabsorbsi selama penyembuhan tapi berubah dan berkembang menjadi granulasi.
2.      Proliferasi sel :
o   Sel-sel dari lapisan dalam periosteum berproliferasi pada sekitar fraktur
o   Sel ini menjadi prekusor dari osteoblast, osteogenesis berlangsung terus, lapisan fibrosa periosteum melebihi tulang.
o   Beberapa hari di periosteum meningkat dengan fase granulasi membentuk collar di ujung fraktur.
3.      Pembentukan callus :
o   Dalam 6-10 hari setelah fraktur, jaringan granulasi berubah dan terbentuk callus.
o   Terbentuk kartilago dan matrik tulang berasal dari pembentukan callus.
o   Callus menganyam massa tulang dan kartilago sehingga diameter tulang melebihi normal.
o   Hal ini melindungi fragmen tulang tapi tidak memberikan kekuatan, sementara itu terus meluas melebihi garis fraktur.
4.      Ossification
o   Callus yang menetap menjadi tulang kaku karena adanya penumpukan garam kalsium dan bersatu di ujung tulang.
o   Proses ossifikasi dimulai dari callus bagian luar, kemudian bagian dalam dan berakhir pada bagian tengah
o   Proses ini terjadi selama 3-10 minggu.
5.      Consolidasi dan Remodelling
o   Terbentuk tulang yang berasal dari callus dibentuk dari aktivitas osteoblast dan osteoklast.
VII.Manifestasi klinis
a.       Nyeri terus menerus dan bertambah beratnya sampai fragmen tulang diimobilisasi, hematoma, dan edema
b.      Deformitas karena adanya pergeseran fragmen tulang yang patah
c.       Terjadi pemendekan tulang yang sebenarnya karena kontraksi otot yang melekat  diatas dan dibawah tempat fraktur
d.      Krepitasi akibat gesekan antara fragmen satu dengan lainnya
e.       Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit
f.       Peningkatan temperatur lokal
g.      Kehilangan fungsi


VIII.       Komplikasi
1.      Umum :
o   Shock
o   Kerusakan organ
o   Kerusakan saraf
o   Emboli lemak
2.      D i n i :
o   Cedera arteri
o   Cedera kulit dan jaringan
o   Cedera partement syndrom.
3.      Lanjut :
o   Staffnes (kaku sendi)
o   Degenerasi sendi
o   Penyembuhan tulang terganggu :
o   Mal union
o   Non union
o   Delayed union
o   Cross union


IX.     Pemeriksaan penunjang
a.       Pemeriksaan foto radiologi dari fraktur : menentukan lokasi, luasnya
b.      Pemeriksaan jumlah darah lengkap
c.       Arteriografi : dilakukan bila kerusakan vaskuler dicurigai
d.      Kreatinin : trauma otot meningkatkan beban kreatinin untuk klirens ginjal
X.      Penatalaksanaan
a.       Reduksi fraktur terbuka atau tertutup : tindakan manipulasi fragmen-fragmen tulang yang patah sedapat mungkin  untuk kembali seperti letak semula.
b.      Imobilisasi fraktur
Dapat dilakukan dengan fiksasi eksterna atau interna
c.       Mempertahankan dan mengembalikan fungsi
Reduksi dan imobilisasi harus dipertahankan sesuai kebutuhan
Pemberian analgetik untuk mengerangi nyeri
Status neurovaskuler (misal: peredaran darah, nyeri, perabaan gerakan) dipantau
Latihan isometrik dan setting otot diusahakan untuk meminimalkan atrofi dan meningkatkan peredaran darah


B. KONSEP KEPARAWATAN
I. PENGKAJIAN
1.       Pengkajian primer
-          Airway
Adanya sumbatan/obstruksi jalan napas oleh adanya penumpukan sekret akibat kelemahan reflek batuk
-          Breathing
Kelemahan menelan/ batuk/ melindungi jalan napas, timbulnya pernapasan yang sulit dan / atau tak teratur, suara nafas terdengar ronchi /aspirasi
-          Circulation
TD dapat normal atau meningkat , hipotensi terjadi pada tahap lanjut, takikardi, bunyi jantung normal pada tahap dini, disritmia, kulit dan membran mukosa pucat, dingin, sianosis pada tahap lanjut


2.       Pengkajian sekunder
a.Aktivitas/istirahat
z  kehilangan fungsi pada bagian yangterkena
z  Keterbatasan mobilitas
d)      Sirkulasi
z  Hipertensi ( kadang terlihat sebagai respon nyeri/ansietas)
z  Hipotensi ( respon terhadap kehilangan darah)
z  Tachikardi
z  Penurunan nadi pada bagiian distal yang cidera
z  Cailary refil melambat
z  Pucat pada bagian yang terkena
z  Masa hematoma pada sisi cedera
e)       Neurosensori
z  Kesemutan
z  Deformitas, krepitasi, pemendekan
z  Kelemahan

f)       Kenyamanan
z  nyeri tiba-tiba saat cidera
z  spasme/ kram otot
g)             Keamanan
z  laserasi kulit
z  perdarahan
z  perubahan warna
z  pembengkakan lokal






Smeltzer Suzanne, C 2001. Buku Ajar Medikal Bedah. Jakarta. EGC
Price Sylvia, A, 1994, Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Jilid 2 . Edisi 4. Jakarta. EGC
Subhan, 2002, Laporan Kasus Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan Musculoskeletal di Ruang Bedah F Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Soetomo Surabaya, Universitas Airlangga, Surabaya.
Evelyn C . Pearce. Anatomi dan fisiolagi untuk paramedis . Jakarta : 1992

Tidak ada komentar: